When You’re Gone.

Sebut saja aku perempuan yang menerima hujan di hari kematianmu.

Setapak demi setapak aku menyusuri rumput yang basah.

Suaramu tak akan lagi ku dengar.

Sampai pada saatnya aku tertunduk menahan tangis.

Aku tak perduli berapa air hujan yang membasahiku.

Antara menerima dengan ikhlas atau tidak.

Aku terus menatap nisan yang tertanda namamu.

Air mataku terus mengalir setiap aku mengingatmu.

Harapan, kenangan, dan mimpi kita terkubur bersamamu.

Hari sangat begitu cepat, kadang aku berfikir kenapa Tuhan memanggil namamu sekarang?

Hanya aku disini.

Hidup dan mati itu telah terjadi didepan mataku.

Biarkan angin menemaniku disaat terakhir ku melihatmu tertidur.

Bersamamu, adalah hal terindah yang pernah ku alami.

Biarkan cincin ini menjadi saksi kenangan itu.

Berlari pun aku percuma, tetap saja semua kenangan itu ter-ngiang di fikiranku.

PerintahNya adalah kewajiban.

Percuma aku terpuruk, kamu tidak akan pernah kembali.

Perpisahan akan menjadi pelajaran untukku.

Pilih lah mana yang terbaik. berubah untuk hari esok atau bertahan untuk hari lalu?

By,

Your Love.

Missing you.

Cari Dimana Hatimu.

“Sejak hari itu, aku bisa melupakannya.”

sebut saja namaku Mr. X

Aku laki-laki yang sedang menyukai seseorang, bahkan 5 tahun lamanya.

kenapa bisa selama itu? entahlah. perasaanku tak pernah berhenti memujanya.

kecantikan yang ia punya, membuatku tergila-gila ingin memilikinya.

Entah mengapa, aku tidak pernah berani mengatakan sejujurnya. aku tidak ingin dirinya membenciku, karena aku sangat memujanya.

aku hanya ingin berada di dekatnya.

Padahal, bertemu dengannya tidaklah sering. Melihat senyumnya pun hanya sesekali dalam bingkai.

tapi aku sangat menyukai perempuan itu.

berkali-kali aku melihat ia berganti pasangan.

dan aku hanyalah laki-laki biasa, tidak rupawan dan tidak mewah seperti yang ia inginkan.

Itu juga mungkin alasanku, kenapa tidak berani mengikatnya sebagai pasanganku.

Namun, percayakah jika aku bisa melupakannya dan menjadi pria yang percaya diri?

sebulan yang lalu aku bertemu dengan perempuan lain.

perempuan yang hormat pada orang tuanya, bahkan santun dengan orang lain. kebaikan hatinya yang membuatku terpana saat itu, ia adalah teman akrab ku.

aku terpikat oleh tutur katanya. tidak hanya manis, ia juga perempuan yang cerdas.

ia pintar memikat suasana yang tadinya dingin menjadi hangat.

aku suka kedua mata nya yang berwarna kecoklatan.

aku ingin sekali mendekapnya, tapi aku tak mampu.

aku takut salah sikap dihadapannya.

tapi aku juga tidak ingin kehilangan sosoknya.

Ya Tuhan, beri aku jalan untuk mengikatnya dengan cepat.

Semenjak ada wanita ini di hidupku, semua warna abu menjadi warna cerah.

beri aku aku kesempatan untuk bahagia.

aku berjanji, aku tidak akan memikirkan masa lalu.

aku tidak ingin kembali ke masa dimana aku mengagumi seseorang dari jauh.

aku ingin kenyataan hidup, berdampingan dengan orang yang mencintaiku dan yang aku cintai.

aku pun berhenti berharap dengan yang lalu, aku mengharapkan yang sedang ada di hadapanku.

Wanita ini, mengubah segalanya. Terima kasih telah datang dan berkenalan denganku. dan menjadi teman ku saat itu.

sekarang, aku yakin kamu lah yang ditunjuk Sang Pencipta untukku.

Jadi, jika ada dua pilihan. maka pilihlah satu.

apakah kamu akan memilih orang yang mencintaimu?

atau kamu akan memilih orang yang kamu cintai?

karena semua jalan rumit telah ku jalani, aku yakin ada jalan mulus setelah itu.

ya, tentu saja jalan itu adalah b e r t e m u  d e n g a n m u.

 

 

Salam,

Mr. X

 

Aku Berselimut Rindu.

Suara petik gitar dengan indahnya mengayun ku kedalam lagu.
Piano juga mengikuti iramanya dengan senada.
Hanya aku yang bisa mendengarnya.
Earphone terus menerus memeluk telingaku.
Agar aku tidak mendengar kebisingan di luar telingaku untuk sementara.
Aku butuh ketenangan, bukan berarti aku suka kesepian mendalam.
Sama seperti empuknya guling yang sejak tadi aku dekap.

Dengan sabar aku menunggumu, menanti senyum itu ada dihadapanku.
Aku sungguh merindukanmu.
Aku telah kehilangan sesuatu yang penting.
Kamu sibuk dengan duniamu, sedangkan aku malah sibuk memikirkanmu.

Sesulit inikah jika ingin menggapai kebahagiaan?
Seperti ada tangga yang harus aku naik terus menerus jika ingin bersamamu. entah berapa anak tangga yang sudah aku injak. Aku hanya ingin berusaha tetap bersamamu.

Kamu; Teman hidup yang seharusnya menemaniku.
Kapan kamu akan kembali? Tertawa sambil memeluk ku dari belakang,
mencubit pipiku hingga memerah, bahkan mencium keningku saat aku terlelap dipangkuanmu.
Cepatlah kembali dan aku siap membuka pintu lebar-lebar menyambut kepulanganmu.

aku ingat perkataanmu kemarin, “Bersabarlah sayang, suatu saat kita akan bersama dalam satu atap. berdoalah untuk setiap keinginan kita. Tuhan selalu menjadi Penentu mana yang terbaik untuk kita. Jika kamu untukku, maka aku untukmu. Yakinlah.”

Hingga, saat ini aku semakin mabuk oleh rindu.

Thankyou readersss!
I share by WordPress

Teman? Kapan kita berteman?

Terinspirasi dari seorang laki-laki yang terpesona dengan satu wanita yang baru ia temui. Cerita nya begitu memukau, yang ia tau dia hanya bertemu dengan wanita itu sekali, namun seperti sudah mengenal lama. Entahlah…..

“Hai” sapa wanita dihadapannya sambil tersenyum.
“Ha…hai” balasku dengan gugup. Senyumnya yang menawan, rambutnya yang kecoklatan membuat sinar matahari hari ini sangat berkilau dari biasanya. Matanya yang menyipit saat memamerkan senyumnya itu berhasil menghangatkan jiwa dan raga.

Baca lebih lanjut

Aku Buta

Terdengar melodi yang kamu lantunkan dari sebuah piano, menghiburku malam ini. aku sudah terbangun sejak tadi pagi bahkan aku sudah menyium aroma hujan hari ini, tapi tetap saja yang aku lihat hanya warna hitam. Percuma, aku berteriak sekencang apapun, tidak akan membuat mataku kembali seperti semula. 3 bulan lalu, aku mengalami kecelakaan beruntun. Aku tidak tau apa yang terjadi, aku tidak mengingat apapun. Yang aku tau, aku melihat banyak cahaya warna-warni dimimpiku yang sebelumnya indah itu. Tapi setelah terbangun, aku sudah tidak bisa melihat apapun; hanya kegelapan yang menyelimuti kedua bola mataku ini. rasanya untuk hidup hanyalah percuma. Aku hanya bisa membayangkan kenangan yang begitu manis bersamamu; musisi sekaligus teman yang selalu bersamaku.

Hari ini ia mampir kerumahku yang mungil ini, ibuku senantiasa mengundangnya makan malam bersama. Karena hari ini hari ulang tahunku. Senang sekali mendengar ia mengetuk pintu kamarku dan mengejutkanku dengan bersuara merdu. Kedua tangannya menutupi mataku dan ia berbisik “selamat ulang tahun,cantik.” Lalu melanjutkan dengan nyanyian selamat ulang tahun untukku. Aku hanya tersenyum dan tidak bisa berkata apapun. Mendengar suaranya saja selalu membuatku merasa nyaman, ku sentuh wajahnya yang dahulu menawan itu, entah sekarang seperti apa rupanya. Aku tidak akan perduli lagi; yang terpenting ia selalu ada untukku. Ia bergegas menuntunku ke ruang makan, tepat disebelah meja makan ada sebuah piano peninggalan kakek. Ia serontak langsung duduk disana, dan menyentuh papan tuts kemudian memainkan sebuah lagu. Lagu favorite ku, a thousand years. Sekujur tubuhku merinding, bergetar sesuai nada yang ia sentuh. Aku menangis terharu, dan ia mengentikan lagunya. Ia menghampiriku dan mengusap kedua mataku lalu mengecup kedua mataku. Entah setelah itu apa yang ia lakukan, terdengar suara kaki menekuk dan sepatu yang bergeser dengan lantai. Seperti seseorang sedang berlutut satu kaki. Aku masih duduk di bangku tua sambil menunggu apa yang akan terjadi. Ia mulai berkata “cantik, kamu pasti penasaran aku mau ngapain, dan kamu pasti ingin tau kenapa aku selalu senang berada di dekatmu selama ini. saat pertama kali bertemu, paras wajahmu tak pernah aku lupakan begitu saja. Aku tau, aku hingga saat ini belum bisa mengajakmu jadian atau semacamnya. Aku masih belum berani mengatakan apa yang sedang aku rasakan hingga saat ini. maafkan aku, aku masih jauh dari sempurna. Tapi aku akan berusaha jadi mata di hidup kamu.” Aku tersentak dengan ucapan nya. Entah harus senang atau sedih, selama ini kita hanya teman. Tidak ada kata pacaran atau semacamnya. Ku kira, setelah kecelakaan itu, tidak akan ada yang mampu menemaniku lagi, tapi itu hanya ketakutanku semata.

Aku merasa amat beruntung, meskipun aku tau aku tidak bisa lagi melihat keindahan bibirnya yang biasanya bernyanyi. Aku juga tidak bisa melihat matahari terbenam lagi, aku juga tidak bisa melihat ia berdiri di atas panggung lagi. Tapi aku masih bisa memegang wajahnya bahkan pundaknya, aku juga masih bisa menghirup segarnya udara pagi, dan bahkan parfum yang ia pakai. Sangat percuma aku menyimpan semua foto yang terbingkai indah terpajang; seorang laki-laki dengan tampan tersenyum ke arah kamera. Aku tidak akan bisa melihatnya lagi. Aku sangat amat terpukul dengan keadaan ini, tapi ia mampu membantuku untuk terus berdiri.

Ia melanjutkan kata-kata nya “Maaf karena selama ini aku belum berani mengatakan apapun yang berkaitan dengan hubungan kita, aku yakin waktu itu aku belum siap. Tapi hari ini, aku akan memberanikan diri untuk mengatakannya. Di hari kamu terlahir hingga cantik seperti ini, ibumu harus bangga kepadamu. Karena Tuhan telah memberikan anak secantik kamu, dan aku berterima kasih kepada ibumu karena ia sudah berusaha menjaga mu hingga saat ini. dan ia harus merelakanmu, dan mulai beristirahat sekarang” sepertinya ia tersenyum kepada ibuku, lalu ia memegang tanganku dengan erat.
Dan melanjutkan perkataannya “So, Will you marry me?” aku terkejut, ia membiarkanku memegang kotak yang entah berwarna apa dan berbentuk seperti apa. Tapi aku bisa merasakannya, aku membuka kotak tersebut dan ku raba dengan halus, sebuah cincin mungil terpegang oleh jemariku, tanganku gemetar memegangnya, aku menangis dan masih belum percaya dengan semuanya. Aku mengangguk dan berusaha meraih wajahnya dan mendekatkannya kepadaku hingga hidung kami bersentuhan. Ia memasukkan cincinnya kedalam jari manisku. Ia tertawa dan mengecup keningku. Kemudian ia berkata “Aku akan terus mencintaimu

Hanya Sekedar

Senja datang,hanya sementara.
Pelangi muncul, hanya sesaat.
Seperti kamu, yang mungkin sekarang berada di kehidupanku. Datang secara tiba-tiba tanpa jurus apapun. Awalnya aku kira hanya percakapan biasa,namun lambat laun seperti sudah mengenal sangat lama. Dengan mudahnya kamu membuatku tertawa dari kejauhan,bertemu denganmu sesekali dan melihat parasmu membuatku sangat lega. Entahlah,menyukaimu adalah hal salah menurutku. Aku tidak mungkin memilikimu saat ini. Aku tahu,aku bohong jika tidak mengagumimu. Aku hanya ingin kita yang seperti ini. Yang saling memerhatikan namun menutup diri untuk memiliki. Karena kita tau satu hal; itu tidak mungkin.

Sampai kapan kita seperti ini? Apa kamu akan seperti pelangi setelah hujan?
Atau kamu akan menjadi senja yang selalu ditunggu setiap orang sepulang kerja?
Atau kamu bertindak lebih jauh, dengan berusaha lebih untukku dan merebutku dengan hatimu?

Aku tidak tau apa kamu juga merasakan hal yang sama. Apa hanya aku yang merasakannya? Aku tidak banyak berharap, karena mungkin kita terlalu bermimpi untuk bersama,bahkan terlalu semu untuk memeluk satu sama lain. Aku tidak ingin,keadaan yang nyaman ini berubah. Tapi aku juga tidak ingin kita hanya seperti ini. Kadang aku berfikir, kenapa dahulu bukan kau saja yang datang lebih dulu? Kenapa bukan kau yang berkorban untukku? Kenapa kau bisa terlambat sekali? Hingga kalah satu langkah dari orang lain. Aku menyayangkan itu.
Mungkin ini takdir kita, yang hanya bisa sekedar berbagi bukan memiliki.
Hey,dengar.
Jika suatu hari kamu mendapat seseorang yang kamu cari, maka aku ikut senang melihatmu dengannya meskipun bukan aku.